Miris: Finding Love [Chapter 10]
Finally. Ending!
“Sher, Mama lo mana? Kok ngga di
warung?” tanya Lira sambil mengambil kremes dari toples.
“Lagi istirahat. Nanti malem baru Mama gue yang jualan. Udah ih sana duduk, gangguin aja.” ucap Sheryl sembari memasukan ayam ke dalam penggorengan.
“Gue yang ngambil nasinya sendiri ah, lo suka kebanyakan kalo ngasih.”
“Lagi istirahat. Nanti malem baru Mama gue yang jualan. Udah ih sana duduk, gangguin aja.” ucap Sheryl sembari memasukan ayam ke dalam penggorengan.
“Gue yang ngambil nasinya sendiri ah, lo suka kebanyakan kalo ngasih.”
Kemudian, Lira membuka tempat nasi
dan menaruhnya dalam piringnya.
“Ra, Kak Arsen sama Nanda mau ke
sini.”
Ucapan Sheryl barusan membuat
aktivitas Lira terhenti.
“Hai, Sayang!” ucap seseorang yang
baru datang.
“Geli Nda dengernya.” ucap Sheryl.
“Dipanggil sayang sama pacar sendiri masa geli?”
“Geli Nda dengernya.” ucap Sheryl.
“Dipanggil sayang sama pacar sendiri masa geli?”
Lira masih dalam posisinya—membeku.
“Itu pegawai baru kamu Say?” tanya
Nanda berniat meledek Lira.
“Ra…” gumam Sheryl yang berdiri bertolak belakang dengan Lira.
“Mbak Lira, ayam kremesnya satu dong.” ledek Nanda.
“Ra…” gumam Sheryl yang berdiri bertolak belakang dengan Lira.
“Mbak Lira, ayam kremesnya satu dong.” ledek Nanda.
Lira memutar tubuhnya dan menatap
Nanda jutek. Lalu melirik seseorang di samping Nanda. Arsen sedang sibuk dengan
ponselnya. Merasa diperhatikan seseorang dengan tatapan dingin, Arsen
mengangkat kepalanya dari layar ponsel.
Entah mengapa Lira jadi salah
tingkah. Arsen tersenyum dalam tunduknya setelah melihat sikap Lira barusan.
Arsen bangun dari duduknya seraya
memasukan ponselnya ke dalam saku celana jins hitamnya. Kemudian berjalan ke
arah Lira. Nanda memberi isyarat pada Sheryl untuk duduk disampingnya. Menonton
drama yang akan segera dimulai.
Lira semakin membeku.
Menyembunyikan wajahnya dibalik rambut ikal yang ia gerai. Tangannya masih
memegang mangkuk cetakan nasi. Lira bingung harus melakukan apa, sedangkan
Arsen sudah berdiri disampingnya.
‘Jauh-jauh dari gue kek ni orang!
Sial, kenapa deg-degan gini!’ batin Lira.
“Lo kenapa sih?”
“Lo… Lo yang kenapa?! Sana ih jangan deket-deket.”
“Lo… Lo yang kenapa?! Sana ih jangan deket-deket.”
Lira mendorong tubuh Arsen.
“Gue cuman mau ngambil gelas buat
minum.”
Arsen mengambil gelas di rak tempat
menaruh gelas. Tanpa Lira sadar, hembusan napasnya terdengar oleh Arsen.
“Eh iya, gue bukan api kali. Tapi
kenapa muka lo merah banget gitu?”
Reflex Lira langsung menyentuh
kedua pipinya. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana. Kemudian, Sheryl
bangun dari duduknya dan mengambil ayam dari penggorengan lalu ia tiriskan.
“Kak Arsen makan juga?” tanya
Sheryl.
“Iya. Tapi Lira ya yang nyiapin.” kata Arsen.
“Kenapa gue? Kan ada penjualnya!” ucap Lira, galak.
“Pokoknya Lira yang bikinin.”
“Bikin aja sendiri.” kata Lira.
“Yaudah, gue bikin sendiri. Tapi posisi lo tetep di situ, jangan bergerak sedikitpun.”
“Iya. Tapi Lira ya yang nyiapin.” kata Arsen.
“Kenapa gue? Kan ada penjualnya!” ucap Lira, galak.
“Pokoknya Lira yang bikinin.”
“Bikin aja sendiri.” kata Lira.
“Yaudah, gue bikin sendiri. Tapi posisi lo tetep di situ, jangan bergerak sedikitpun.”
Arsen kembali bangun dari duduknya
dan mendekat ke meja saji.
“Iya! Iya!” ucap Lira buru-buru
sebelum Arsen mendekat.
Arsen tersenyum lalu highfive dengan Nanda.
“Oh iya, posisi ayamnya harus ada
disebelah kanan salad ya, terus sambelnya disebelah kirinya ayam.” ucap Arsen.
“Banyak mau. Suka-suka gue lah mau naruh di mana.”
“Kalo gitu, nanti suapin. Gue ngga mau kalo ngga kaya yang gue bilang tadi.”
“Arsen! Lo pikir ini tempat makan nenek moyang lo?!”
“Banyak mau. Suka-suka gue lah mau naruh di mana.”
“Kalo gitu, nanti suapin. Gue ngga mau kalo ngga kaya yang gue bilang tadi.”
“Arsen! Lo pikir ini tempat makan nenek moyang lo?!”
Lira mulai kesal walau wajahnya
menyimpan sejuta kegugupan. Bahkan detak jantungnya masih cepat berdetak.
“Iya… Iya… Yaudah, terserah lo aja
deh.” Arsen mengalah.
Beberapa menit kemudian, Lira
memberi sepiring ayam kremes di hadapan Arsen. Arsen menatap wajah Lira.
“Kenapa lagi?”
“Ngga cape ya jutek mulu sama gue?”
“Ngga cape ya jutek mulu sama gue?”
Lira diam.
“Ya cape.” Lira membuang pandangan
setelah menjawab pertanyaan Arsen.
Jawaban Lira barusan benar-benar
diluar perkiraan Arsen dan Nanda. Bahkan Sheryl kaget mendengar jawaban Lira
barusan. Seakan Lira sudah membuka gerbang perdamaian dengan Arsen.
“Kalo cape kenapa masih jutek sama
gue?”
Lira menggigit bibir bawahnya tanpa
menatap tiga orang yang sedang memperhatikannya. Arsen menarik Lira untuk duduk
disampingnya.
“Sini duduk.” kata Arsen yang
kemudian menyantap makanannya.
Lira berdiri tapi Arsen menariknya
kembali untuk duduk.
“Gue mau duduk disebelah Sheryl.”
“Sini aja sebelah gue. Ngga gue makan. Gue bukan karnivora.” ucap Arsen.
“Kenapa ngga dari dulu aja sih kalian kaya gini? Kan enak diliatnya.” ucap Sheryl.
“Sini aja sebelah gue. Ngga gue makan. Gue bukan karnivora.” ucap Arsen.
“Kenapa ngga dari dulu aja sih kalian kaya gini? Kan enak diliatnya.” ucap Sheryl.
Lira melirik Arsen, namun saat
ditatap balik, Lira malah mengalihkan pandangan.
“Lain cerita Sher kalo mereka akur
dari dulu.” kata Nanda.
Tiba-tiba, ponsel Lira bergetar
tanda satu pesan diterima. Arsen melihat Lira membuka percakapan di-whatsapp.
“Kepo dong.” Arsen mengambil ponsel
Lira dan melihat siapa yang mengirim chat
padanya.
“Eh, lo tuh makan ya makan aja. Balikin sini!” ucap Lira dengan nada tinggi.
“Ih, apaan banget sih. Lo berdua udah putus kan? Kok chatting-nya masih kaya orang pacaran? Kalian ngga balikan kan??” tanya Arsen dengan mata yang membulat.
“Ngga usah kepo deh! Sini ah!” Lira merampas ponselnya, membiarkan Arsen menyimpan tanda tanya.
“Eh, lo tuh makan ya makan aja. Balikin sini!” ucap Lira dengan nada tinggi.
“Ih, apaan banget sih. Lo berdua udah putus kan? Kok chatting-nya masih kaya orang pacaran? Kalian ngga balikan kan??” tanya Arsen dengan mata yang membulat.
“Ngga usah kepo deh! Sini ah!” Lira merampas ponselnya, membiarkan Arsen menyimpan tanda tanya.
Arsen diam.
V: Lo di mana?
V: Di mana eh? Lama banget balesnya.
V: Ra? Lg ngga sama cowo kan?
L: Ngga, gue lagi di tempat Sheryl. Knp?
V: Udah makan?
L: Baru mau. Lo? Jgn telat makan.
V: Udah kok. Iya beb, ngga telat kok selama ada yg ngingetin. Makan cepetan.
L: Tardulu, lg digoreng ayamnya.
V: Udah selesai?
V: Ra? Udah selesai blm?
V: Ra lo di manaaa? Kebiasaan.
V: Di mana eh? Lama banget balesnya.
V: Ra? Lg ngga sama cowo kan?
L: Ngga, gue lagi di tempat Sheryl. Knp?
V: Udah makan?
L: Baru mau. Lo? Jgn telat makan.
V: Udah kok. Iya beb, ngga telat kok selama ada yg ngingetin. Makan cepetan.
L: Tardulu, lg digoreng ayamnya.
V: Udah selesai?
V: Ra? Udah selesai blm?
V: Ra lo di manaaa? Kebiasaan.
“Lo
balikan Ra sama Virgo?” tanya Sheryl. Lira diam. Arsen menunggu jawaban Lira.
~
“Jadi kamu bakalan sekolah pilot?”
tanya Dizi.
“Iya. Kamu seneng?”
“Ya seneng lah! Eh iya, di mana?”
“Iya. Kamu seneng?”
“Ya seneng lah! Eh iya, di mana?”
Dirly diam mendengar pertanyaan
yang paling ditakuti setelah bicara tentang ini pada Dizi.
“Dir, kok kamu diem aja? Kamu
ngelanjutin di mana?”
“Di…” ucapan Dirly dibiarkannya menggantung.
“Di…” ucapan Dirly dibiarkannya menggantung.
Ponsel Dirly berdering. Papa
meneleponnya.
“Iya Pa, besok aku pesawat jam dua
siang.”
Bicaranya dengan seseorang di ujung
telepon.
“Makasih Pa udah bantu aku ngurus
semuanya. Iya, sampe ketemu besok.”
Setelah itu, Dirly memutus telepon
dengan Papanya di telepon.
“Papa kamu lagi ngurus kuliah pilot
kamu ya?”
“Iya. Dia juga tadi titip salam ke kamu.”
“Salam balik. Eh iya, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu ngelanjutin di mana?”
“Iya. Dia juga tadi titip salam ke kamu.”
“Salam balik. Eh iya, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu ngelanjutin di mana?”
Dirly memberikan amplop cokelat
yang sedaritadi digenggamnya. Dizi menerima masih dengan senyum sumringah. Dizi
membaca apa yang tertera di kertas itu.
California Flight Center.
Setelah membaca apa yang ada di
kertas itu, Dizi menatap Dirly yang tertunduk dan seakan tidak siap melihat
tanggapan kekasihnya itu.
“Maafin aku.” lirih Dirly.
“Kenapa minta maaf?” tanya Dizi dengan nada bicara menahan tangis.
“Maaf karena harus Amerika.”
“Kenapa minta maaf?” tanya Dizi dengan nada bicara menahan tangis.
“Maaf karena harus Amerika.”
Dizi tersenyum getir.
“Aku ngga suka liat kamu pura-pura
senyum. Lebih baik kamu nangis karena itu artinya kamu kenapa-napa.” ucap
Dirly.
“Aku cuman takut jadi beban kalo aku nangis.”
“Aku cuman takut jadi beban kalo aku nangis.”
Dizi mulai meneteskan air matanya.
Dirly merengkuh Dizi kedalam dekapnya.
“Maafin aku.” ucap Dirly yang tanpa
sadar juga menitihkan air mata.
“Eh, ada apa nih? Di depan rumah
orang peluk-pelukan nangis-nangisan.”
Ucapan Arsen membuat Dirly melepas
pelukannya, Dizi menghapus air matanya.
“Dir, lo udah bilang?” tanya Arsen.
Dirly mengangguk. “Tenang aja Diz, Depok-California cuman jarak kok. Gue kutuk
dia kalo sampe dia selingkuh di sana.” canda Arsen.
“Gue ngga bakal macem-macem Kak.” kata Dirly.
“Besok aku ikut nganterin kamu, boleh ya?” kata Dizi.
“Gimana Kak?” Dirly meminta persetujuan Kakaknya.
“Kalo besok kita berangkat bertiga, lo ngga takut Dizi gue apa-apain sepulang dari bandara?”
“Awas aja kalo sampe lo macem-macem!” ancam Dirly.
“Suruh Lira ikut makanya.” ucap Arsen santai seraya berjalan msuk ke rumahnya.
“Kalo Lira ngga mau ikut, gimana?” Dirly menyusul Kakaknya ke ruang tamu.
“Gue ngga bakal macem-macem Kak.” kata Dirly.
“Besok aku ikut nganterin kamu, boleh ya?” kata Dizi.
“Gimana Kak?” Dirly meminta persetujuan Kakaknya.
“Kalo besok kita berangkat bertiga, lo ngga takut Dizi gue apa-apain sepulang dari bandara?”
“Awas aja kalo sampe lo macem-macem!” ancam Dirly.
“Suruh Lira ikut makanya.” ucap Arsen santai seraya berjalan msuk ke rumahnya.
“Kalo Lira ngga mau ikut, gimana?” Dirly menyusul Kakaknya ke ruang tamu.
Arsen melirik jahil.
“Liat besok aja.” katanya sambil
memberi wink pada Dizi. Dizi hanya
mencibir dalam hati.
“Gue bilangin Lira lho genit-genit sama gue!” ucap Dizi.
“Bilang gih sana. Sekalian gue mau liat Lira tuh kalo cemburu kaya gimana.”
“Lo mau tau kalo Lira cemburu kaya gimana?” tanya Dizi.
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
“Gue jadi makin penasaran.”
“Emang lo udah jadian Kak sama Lira?” tanya Dirly.
“Tunggu aja.”
“Gue bilangin Lira lho genit-genit sama gue!” ucap Dizi.
“Bilang gih sana. Sekalian gue mau liat Lira tuh kalo cemburu kaya gimana.”
“Lo mau tau kalo Lira cemburu kaya gimana?” tanya Dizi.
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
“Gue jadi makin penasaran.”
“Emang lo udah jadian Kak sama Lira?” tanya Dirly.
“Tunggu aja.”
Setelah itu Arsen naik ke lantai
dua rumahnya.
“Jangan lupa suruh Lira ikut
besok!” teriaknya dari lantai dua.
“Kalo besok Lira ikut, pulang dari bandara aku jadi nyamuk dong?” kata Dizi.
“Kamu mau ikut aku?”
“Emang bisa?”
“Bisa.”
“Yaudah, mau.”
“Kalo besok Lira ikut, pulang dari bandara aku jadi nyamuk dong?” kata Dizi.
“Kamu mau ikut aku?”
“Emang bisa?”
“Bisa.”
“Yaudah, mau.”
Dirly terkikik. Lalu mencubit kedua
pipi Dizi.
“Di dalem koper ya tapi? Hahahaha.”
“Ih kirain beneran.”
“Yaudah yuk kita ke mana kek. Besok kan aku udah berangkat.”
“Jangan gitu kek ngomongnya.”
“Akhirnya nanti bakal ada yang kangenin aku.”
“Ih kirain beneran.”
“Yaudah yuk kita ke mana kek. Besok kan aku udah berangkat.”
“Jangan gitu kek ngomongnya.”
“Akhirnya nanti bakal ada yang kangenin aku.”
~
Pukul satu siang di Bandara
Soekarno-Hatta.
Dirly erat menggenggam jemari Dizi.
Dizi masih dalam tunduknya, berusaha mencari kalimat agar terlihat tegar dan
tidak membuat kekasihnya khawatir.
Di sisi lain, Lira asyik menyeruput
matcha green tea-red been-nya,
ditemani Arsen yang sedang asyik mendengarkan lagu di iPod-nya.
Sheryl yang duduk di samping Dizi,
berusaha menenangkan sahabatnya yang hampir menangis—tentu dengan Nanda
disebelahnya. Di situ, Nanda berusaha menghibur Dirly dengan mengajaknya
ngobrol agar tidak terlalu menengangkan untuk Dizi.
“Diz, lo tau kan Mama Papa gue LDR?
Mereka baik-baik aja kok, walaupun sesekali berantem terus ngga
kontak-kontakan.” ucap Lira.
Ingga yang duduk tepat di belakang
Lira, menoyor kepala Lira dengan novel yang sedang ia baca. Sheryl juga
langsung memelototi Lira, begitupun dengan tatapan menyedihkan Dizi. Nanda hanya
menggelengkan kepalanya.
“Tapi mereka saling percaya, saling
ngedoain. Asal lo berdua ngga sama-sama egois aja, hubungan kalian bakal
baik-baik aja kok.” lanjut Lira.
“Kayanya udah pernah ngerasain LDR
ya Ra?” tanya Nanda.
Lira diam dan memandang sekeliling.
Sampailah tatapannya pada seseorang di sampingnya. Arsen sedang memandangnya, menunggu
jawaban dari pertanyaan Nanda. Lira langsung membuang pandangan saat tau
dirinya ditatap seperti itu.
Dirly melirik jam di tangannya.
“Udah harus masuk.” ucap Dirly.
Dizi menatap Dirly, Dirly membalas
tatapan itu. Arsen melepas headset-nya.
Semua yang mengantar Dirly, bangun dari duduknya.
Dirly memeluk satu persatu
teman-temannya, kakak, dan kekasihnya.
“Doain gue ya Kak.” ucap Dirly saat
memeluk Arsen.
“Salam sama Papa dan kabarin gue kalo udah nyampe.” kata Arsen.
“Salam sama Papa dan kabarin gue kalo udah nyampe.” kata Arsen.
Setelah Arsen, Dirly melepas salam
perpisahan pada Nanda, Sheryl, Lira, Ingga, dan terakhir Dizi.
“Aku bilang jangan pura-pura
senyum. Nangis aja. Aku lebih lega kalo kamu nangis.” Dirly memegang kedua bahu
Dizi.
Perlahan, senyumnya luntur karena
air mata. Dizi langsung memeluk laki-laki di hadapannya.
“Aku pasti bakal kangen banget sama
kamu. Pokoknya jangan sampe kita ngga komunikasi sehari.”
Dizi mengangguk dalam pelukan
Dirly.
“Oh iya…” Dirly melepas pelukannya.
“Aku udah bikinin kamu akun skype. Jadi
kamu ngga perlu khawatir kangen liat aku.” ucap Dirly dengan penuh percaya
diri.
“Mas, Mbak, tolong ya, di sini
banyak temen-temennya lho. Dunia berasa milik berdua banget, yang lain numpang.”
ucap Ingga sambil membuang pandangan.
“Sirik aja deh yang ke sini ngga
sama pacar, hahahaha.” ledek Sheryl.
“Asem lo! Erland lagi sibuk, jadi gue sebagai pacar yang baik ya berusaha ngerti aja.” kata Ingga.
“Gue ke sini juga ngga sama pacar. Tenang aja, Ngga.” kata Lira.
“Sama calon ya Ra?” tanya Dizi sambil menghapus air matanya.
“Asem lo! Erland lagi sibuk, jadi gue sebagai pacar yang baik ya berusaha ngerti aja.” kata Ingga.
“Gue ke sini juga ngga sama pacar. Tenang aja, Ngga.” kata Lira.
“Sama calon ya Ra?” tanya Dizi sambil menghapus air matanya.
Lira menghembuskan napas beratnya. Arsen
hanya tersenyum mendengar kalimat barusan.
“Yaudah deh, gue masuk dulu ya. Kalo
udah sampe, gue kabarin. Jaga diri kalian baik-baik ya.” kata Dirly.
“Hati-hati juga lo.” kata Nanda.
“Iya Kak.”
“Iya Kak.”
Dirly hendak melangkah, namun
tubuhnya berbalik lagi.
“Sher, Ra, Ngga, jagain Dizi ya. Jangan
sampe dia lirik cowok lain.” kata Dirly.
“Siap Kak.” Sheryl dan Ingga memberikan ibu jarinya, sedangkan Lira hanya mengangguk santai.
“Siap Kak.” Sheryl dan Ingga memberikan ibu jarinya, sedangkan Lira hanya mengangguk santai.
Setelah punggung Dirly benar-benar
tidak terlihat, mereka semua bergegas menuju parkiran.
“Kak Nanda, gue naik di mobil lo
ya?” ucap Dizi.
“Eh, gue juga.” kata Ingga.
“Eh, gue juga.” kata Ingga.
Lira yang sedang asyik mencari red been di minumannya, berhenti sejenak
begitu mendengar ucapan barusan.
“Kalian lagi ngga ngerencanain
sesuatu kan?” tanya Lira.
“Engga. Emangnya mau ngerencanain apa buat lo? Ulang tahun lo aja masih tiga bulan lagi.” jawab Ingga sekenanya.
“Pede amat mau kita ngelakuin sesuatu buat lo, hahahaha.” kata Sheryl.
“Gitu ya… Oke.” ucap Lira sambil melambatkan langkahnya.
“Engga. Emangnya mau ngerencanain apa buat lo? Ulang tahun lo aja masih tiga bulan lagi.” jawab Ingga sekenanya.
“Pede amat mau kita ngelakuin sesuatu buat lo, hahahaha.” kata Sheryl.
“Gitu ya… Oke.” ucap Lira sambil melambatkan langkahnya.
Arsen berjalan sejajar dengan Lira.
“Lo juga mau naik di mobil Nanda?”
tanya Arsen sambil memasukan kedua tangannya dalam saku jinsnya.
“Maunya sih gitu. Tapi—“
“Udah, kita berdua aja.” kata Arsen.
“Maunya sih gitu. Tapi—“
“Udah, kita berdua aja.” kata Arsen.
Arsen berjalan lebih cepat.
“Gue sama Lira balik duluan.” Ucap Arsen
pada Nanda, Sheryl, Ingga, dan Dizi. “Ra, ayo.” kata Arsen.
Lira menatap teman-temannya secara
bergantian.
“Lama banget sih kaya siput.” Arsen
menarik tangan Lira. “Duluan ya, bye!” ucap Arsen.
Lira membiarkan Arsen menggenggam
tangannya, mengikuti langkahnya dari belakang. Entah mengapa Lira mulai merasa
nyaman dengan perlakuan Arsen yang seperti ini.
“Silahkan masuk.” Arsen membukakan
pintu mobil untuk Lira.
“Lebay.” Lira masuk dan membuat senyum di wajah Arsen luntur seketika.
“Lebay.” Lira masuk dan membuat senyum di wajah Arsen luntur seketika.
Dalam perjalanan, Arsen mulai kesal
saat melihat Lira memainkan ponselnya, mengetik sesuatu dan sesekali tersenyum.
Arsen teringat ucapan Dizi kemarin.
“Lo
mau tau kalo Lira cemburu kaya gimana?” tanya Dizi.
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
Arsen merogoh ponselnya dari saku
celana jinsnya, mengutak-atik sesuatu lalu menempelkan ponselnya di telinga
kirinya.
“Halo? Jadi kan Rin nanti malem? Jangan
ngaret ya, gue jemput di rumah.” Arsen diam sejenak. “Oke.” lalu Arsen menaruh
ponselnya kembali di saku celana jinsnya.
Lira melirik Arsen. Arsen tersenyum.
“Mau jalan sama mantan gebetan.” ucap
Arsen dengan sunggingan senyumnya.
Lira menganggukan kepalanya. Padahal,
mau tau juga ngga.
“Nanti malem ngga ke mana-mana?”
tanya Arsen.
“Mau ke acara ulang tahun temennya temen.” jawab Lira.
“Ke acaranya siapa? Sama siapa?”
“Kenapa?”
“Mau tau aja.”
“Sama Virgo.”
“Virgo?!” Arsen menatap Lira.
“Iya. Kenapa emang?”
“Harus banget sama dia?”
“Iya, kan ke acara ultah temennya dia.”
“Partner?”
“Mau ke acara ulang tahun temennya temen.” jawab Lira.
“Ke acaranya siapa? Sama siapa?”
“Kenapa?”
“Mau tau aja.”
“Sama Virgo.”
“Virgo?!” Arsen menatap Lira.
“Iya. Kenapa emang?”
“Harus banget sama dia?”
“Iya, kan ke acara ultah temennya dia.”
“Partner?”
Lira mengangguk.
“Ngga usah pergi lah.”
“Lho, emang apa urusannya sama lo?”
“Ya jangan aja.”
“Gue jalan sama Virgo ngga minjem kaki lo kok.”
“Ketus banget sih.”
“Ya bener kan?”
“Lho, emang apa urusannya sama lo?”
“Ya jangan aja.”
“Gue jalan sama Virgo ngga minjem kaki lo kok.”
“Ketus banget sih.”
“Ya bener kan?”
Wajah Arsen berubah. Sekarang benar-benar
badmood karena tau Lira mau jalan
sama Virgo, ditambah mendengar ucapan Lira barusan.
“Yaudah terserah.” mata Arsen fokus
ke jalanan.
Beberapa menit berlalu, Lira jadi
merasa tidak enak. Ia rasa, ucapannya sudah membuat Arsen diam sampai sekarang.
Berkali-kali Lira menatap Arsen,
namun Arsen selalu membuang tatapan. Ponsel Lira berdering tanda panggilan
masuk. Lira menimang keinginannya mengangkat panggilan Virgo, sesekali ia
melirik Arsen.
Lira menerima panggilan Virgo. Saat
menempelkan ponselnya di telinganya, Arsen merampas ponsel Lira.
“Lira ngga bisa pergi sama lo nanti
malem. Dia ada acara sama gue. Satu lagi, jangan ganggu dia lagi.” Klik. Arsen menyembunyikan
ponsel Lira.
“Apa-apaan sih? Ngga sopan! Sini balikin
hape gue.” ucap Lira. Arsen diam.
“Sen, hape gue.” ucap Lira. “Maksud lo apa coba? Gue mau jalan sama temen gue, terus lo kan juga mau jalan sama temen lo. Kok lo malah ngga ngebolehin gue jalan sih? Urusannya sama lo apa sih?” tanya Lira.
“Sen, hape gue.” ucap Lira. “Maksud lo apa coba? Gue mau jalan sama temen gue, terus lo kan juga mau jalan sama temen lo. Kok lo malah ngga ngebolehin gue jalan sih? Urusannya sama lo apa sih?” tanya Lira.
Arsen menghentikan mobilnya.
“Lo ngga paham juga?”
“Apa?”
“Apa?”
Arsen diam sejenak.
“Gue cemburu.”
“Terus maksud lo apa bersikap kaya gitu?”
“Ya lo ngga boleh pergi sama cowok lain.”
“Emangnya lo siapa gue?”
“Apa cemburu sama lo, gue harus jadi siapa-siapa?”
“Terus maksud lo apa bersikap kaya gitu?”
“Ya lo ngga boleh pergi sama cowok lain.”
“Emangnya lo siapa gue?”
“Apa cemburu sama lo, gue harus jadi siapa-siapa?”
Lira diam.
“Sekarang gue tanya sama lo,”
Arsen menatap mata Lira, Lira hanya
bisa menunduk. Arsen menghembuskan napas beratnya.
“Apa lo mau jadi pacar gue supaya
gue berhak ngelarang lo jalan sama mantan lo?”
Lira menatap Arsen. Kaget dengan
pernyataannya barusan.
“Kenapa?” tanya Arsen.
“Kalo cuman itu alesannya, tanpa lo ngga jadi siapa-siapanya gue, gue bisa aja kok batalin pergi sama Virgo.” ucap Lira lirih.
“Kalo cuman itu alesannya, tanpa lo ngga jadi siapa-siapanya gue, gue bisa aja kok batalin pergi sama Virgo.” ucap Lira lirih.
Arsen mengrenyitkan dahi, tidak
paham dengan ucapan Lira.
“Maksudnya?”
“Lo mau gue jadi pacar lo cuman karena supaya lo berhak larang gue pergi sama Virgo. Tanpa alasan itu lo ngga perlu ngelakuin itu kok.” Lira membuang pandangan.
“Lho, kok malah gini sih. Maksudnya kan bukan gitu.” Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo mau gue jadi pacar lo cuman karena supaya lo berhak larang gue pergi sama Virgo. Tanpa alasan itu lo ngga perlu ngelakuin itu kok.” Lira membuang pandangan.
“Lho, kok malah gini sih. Maksudnya kan bukan gitu.” Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arsen memajukan tubuhnya sedikit,
menggamit kedua tangan Lira.
“Ra, ngga mungkin lo ngga tau
perasaan gue selama ini. Tanpa alasan itupun, gue tetep bakal ngomong ini sama
lo. Ra…”
Lira menatap mata Arsen.
“Mulai sekarang jangan terlalu jauh
deket sama cowok ya, terlebih ke mantan lo itu. Maaf kalo terkesan maksa, tapi
gue ngga suka lo deket apalagi akrab sama mantan lo. Dan mulai sekarang, lo
harus terbiasa sama gue.” ucap Arsen dengan senyumnya.
~
“Kenapa sih kalian bertiga
ngeliatin gue kaya gitu? Ada yang salah?”
“Jangan bikin kita ngulang kejadian lalu. Nyidang lo waktu lo nyembunyiin fakta bahwa lo udah jadian sama Virgo.” ucap Sheryl.
“Jujur atau gue suruh saksi mata ke sini?” tanya Ingga.
“Emang ada saksi mata?” tanya Dizi pada Ingga dengan polosnya.
“Saksi matanya ya si Kak Arsen!” bisik Ingga.
“Ooh, ya ya.”
“Jangan bikin kita ngulang kejadian lalu. Nyidang lo waktu lo nyembunyiin fakta bahwa lo udah jadian sama Virgo.” ucap Sheryl.
“Jujur atau gue suruh saksi mata ke sini?” tanya Ingga.
“Emang ada saksi mata?” tanya Dizi pada Ingga dengan polosnya.
“Saksi matanya ya si Kak Arsen!” bisik Ingga.
“Ooh, ya ya.”
Lira melirik ketiga temannya satu
persatu.
“Emangnya kalian nanya apa sih? Gue
belom denger pertanyaan deh kayanya.” ucap Lira yang kemudian meneguk vanilla late-nya.
“Kapan lo jadian sama Kak Arsen??!”
kompak Dizi, Ingga, dan Sheryl.
“Maunya kapan?” tanya Lira dengan senyum jahil.
“Diz, telepon Kak Arsen cepet.” kata Sheryl.
“Hahahahahahahaha! Empat hari yang lalu. Puas?!”
“Maunya kapan?” tanya Lira dengan senyum jahil.
“Diz, telepon Kak Arsen cepet.” kata Sheryl.
“Hahahahahahahaha! Empat hari yang lalu. Puas?!”
Ingga melirik jam di tangannya,
tanggal 3/5.
“Dua puluh delapan?” tanya Ingga. Lira
tersenyum.
“Lho, pas Dirly berangkat dong?” tanya Dizi.
“Pantes Kak Arsen penginnya balik berdua doang!” kata Sheryl.
“Virgo udah tau?” tanya Dizi.
“Diz, lo pikir HUT RI yang semua orang harus nonton upacaranya di TV?!” kesal Ingga.
“Ya kali aja status whatsapp lo berubah jadi tanggal jadian atau inisial nama Kak Arsen.” kata Dizi.
“Alay banget.” kata Lira.
“Alay? Status whatsapp lo Arsen’s ya. Dasar alay! Hahahaha.” Sheryl baru saja melihat kontak Lira di ponselnya dan memberitahukan ketiga temannya.
“Kampung! Pasti dia yang ganti.” gerutu Lira.
“Terus mau lo ubah?” tanya Ingga.
“Ngga usah deh, biarin aja.” kata Lira.
“Yeu!” ucap ketiga temannya.
“Lho, pas Dirly berangkat dong?” tanya Dizi.
“Pantes Kak Arsen penginnya balik berdua doang!” kata Sheryl.
“Virgo udah tau?” tanya Dizi.
“Diz, lo pikir HUT RI yang semua orang harus nonton upacaranya di TV?!” kesal Ingga.
“Ya kali aja status whatsapp lo berubah jadi tanggal jadian atau inisial nama Kak Arsen.” kata Dizi.
“Alay banget.” kata Lira.
“Alay? Status whatsapp lo Arsen’s ya. Dasar alay! Hahahaha.” Sheryl baru saja melihat kontak Lira di ponselnya dan memberitahukan ketiga temannya.
“Kampung! Pasti dia yang ganti.” gerutu Lira.
“Terus mau lo ubah?” tanya Ingga.
“Ngga usah deh, biarin aja.” kata Lira.
“Yeu!” ucap ketiga temannya.
Ingga asyik dengan pikirannya dan
sesekali tersenyum.
“Kenapa Ngga cengengesan?” tanya
Sheryl.
“Akhirnya kita berempat ngga ada yang jomblo.” jawab Ingga.
“Penting banget sih mikirin itu?” komentar Lira.
“Jadi kita udah finding nih?” tanya Dizi.
“Finding? Maksudnya?” Sheryl bingung.
“Finding love.” ucap Lira.
“Akhirnya kita berempat ngga ada yang jomblo.” jawab Ingga.
“Penting banget sih mikirin itu?” komentar Lira.
“Jadi kita udah finding nih?” tanya Dizi.
“Finding? Maksudnya?” Sheryl bingung.
“Finding love.” ucap Lira.
END
Komentar
Posting Komentar