Miris: Finding Love [Chapter 10]



Finally. Ending!

“Sher, Mama lo mana? Kok ngga di warung?” tanya Lira sambil mengambil kremes dari toples.
“Lagi istirahat. Nanti malem baru Mama gue yang jualan. Udah ih sana duduk, gangguin aja.” ucap Sheryl sembari memasukan ayam ke dalam penggorengan.
“Gue yang ngambil nasinya sendiri ah, lo suka kebanyakan kalo ngasih.”
Kemudian, Lira membuka tempat nasi dan menaruhnya dalam piringnya.
“Ra, Kak Arsen sama Nanda mau ke sini.”
Ucapan Sheryl barusan membuat aktivitas Lira terhenti.
“Hai, Sayang!” ucap seseorang yang baru datang.
“Geli Nda dengernya.” ucap Sheryl.
“Dipanggil sayang sama pacar sendiri masa geli?”
Lira masih dalam posisinya—membeku.
“Itu pegawai baru kamu Say?” tanya Nanda berniat meledek Lira.
“Ra…” gumam Sheryl yang berdiri bertolak belakang dengan Lira.
“Mbak Lira, ayam kremesnya satu dong.” ledek Nanda.
Lira memutar tubuhnya dan menatap Nanda jutek. Lalu melirik seseorang di samping Nanda. Arsen sedang sibuk dengan ponselnya. Merasa diperhatikan seseorang dengan tatapan dingin, Arsen mengangkat kepalanya dari layar ponsel.
Entah mengapa Lira jadi salah tingkah. Arsen tersenyum dalam tunduknya setelah melihat sikap Lira barusan.
Arsen bangun dari duduknya seraya memasukan ponselnya ke dalam saku celana jins hitamnya. Kemudian berjalan ke arah Lira. Nanda memberi isyarat pada Sheryl untuk duduk disampingnya. Menonton drama yang akan segera dimulai.
Lira semakin membeku. Menyembunyikan wajahnya dibalik rambut ikal yang ia gerai. Tangannya masih memegang mangkuk cetakan nasi. Lira bingung harus melakukan apa, sedangkan Arsen sudah berdiri disampingnya.
‘Jauh-jauh dari gue kek ni orang! Sial, kenapa deg-degan gini!’ batin Lira.
“Lo kenapa sih?”
“Lo… Lo yang kenapa?! Sana ih jangan deket-deket.”
Lira mendorong tubuh Arsen.
“Gue cuman mau ngambil gelas buat minum.”
Arsen mengambil gelas di rak tempat menaruh gelas. Tanpa Lira sadar, hembusan napasnya terdengar oleh Arsen.
“Eh iya, gue bukan api kali. Tapi kenapa muka lo merah banget gitu?”
Reflex Lira langsung menyentuh kedua pipinya. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana. Kemudian, Sheryl bangun dari duduknya dan mengambil ayam dari penggorengan lalu ia tiriskan.
“Kak Arsen makan juga?” tanya Sheryl.
“Iya. Tapi Lira ya yang nyiapin.” kata Arsen.
“Kenapa gue? Kan ada penjualnya!” ucap Lira, galak.
“Pokoknya Lira yang bikinin.”
“Bikin aja sendiri.” kata Lira.
“Yaudah, gue bikin sendiri. Tapi posisi lo tetep di situ, jangan bergerak sedikitpun.”
Arsen kembali bangun dari duduknya dan mendekat ke meja saji.
“Iya! Iya!” ucap Lira buru-buru sebelum Arsen mendekat.
Arsen tersenyum lalu highfive dengan Nanda.
“Oh iya, posisi ayamnya harus ada disebelah kanan salad ya, terus sambelnya disebelah kirinya ayam.” ucap Arsen.
“Banyak mau. Suka-suka gue lah mau naruh di mana.”
“Kalo gitu, nanti suapin. Gue ngga mau kalo ngga kaya yang gue bilang tadi.”
“Arsen! Lo pikir ini tempat makan nenek moyang lo?!”
Lira mulai kesal walau wajahnya menyimpan sejuta kegugupan. Bahkan detak jantungnya masih cepat berdetak.
“Iya… Iya… Yaudah, terserah lo aja deh.” Arsen mengalah.
Beberapa menit kemudian, Lira memberi sepiring ayam kremes di hadapan Arsen. Arsen menatap wajah Lira.
“Kenapa lagi?”
“Ngga cape ya jutek mulu sama gue?”
Lira diam.
“Ya cape.” Lira membuang pandangan setelah menjawab pertanyaan Arsen.
Jawaban Lira barusan benar-benar diluar perkiraan Arsen dan Nanda. Bahkan Sheryl kaget mendengar jawaban Lira barusan. Seakan Lira sudah membuka gerbang perdamaian dengan Arsen.
“Kalo cape kenapa masih jutek sama gue?”
Lira menggigit bibir bawahnya tanpa menatap tiga orang yang sedang memperhatikannya. Arsen menarik Lira untuk duduk disampingnya.
“Sini duduk.” kata Arsen yang kemudian menyantap makanannya.
Lira berdiri tapi Arsen menariknya kembali untuk duduk.
“Gue mau duduk disebelah Sheryl.”
“Sini aja sebelah gue. Ngga gue makan. Gue bukan karnivora.” ucap Arsen.
“Kenapa ngga dari dulu aja sih kalian kaya gini? Kan enak diliatnya.” ucap Sheryl.
Lira melirik Arsen, namun saat ditatap balik, Lira malah mengalihkan pandangan.
“Lain cerita Sher kalo mereka akur dari dulu.” kata Nanda.
Tiba-tiba, ponsel Lira bergetar tanda satu pesan diterima. Arsen melihat Lira membuka percakapan di-whatsapp.
“Kepo dong.” Arsen mengambil ponsel Lira dan melihat siapa yang mengirim chat padanya.
“Eh, lo tuh makan ya makan aja. Balikin sini!” ucap Lira dengan nada tinggi.
“Ih, apaan banget sih. Lo berdua udah putus kan? Kok chatting-nya masih kaya orang pacaran? Kalian ngga balikan kan??” tanya Arsen dengan mata yang membulat.
“Ngga usah kepo deh! Sini ah!” Lira merampas ponselnya, membiarkan Arsen menyimpan tanda tanya.
Arsen diam.
V: Lo di mana?
V: Di mana eh? Lama banget balesnya.
V: Ra? Lg ngga sama cowo kan?
L: Ngga, gue lagi di tempat Sheryl. Knp?
V: Udah makan?
L: Baru mau. Lo? Jgn telat makan.
V: Udah kok. Iya beb, ngga telat kok selama ada yg ngingetin. Makan cepetan.
L: Tardulu, lg digoreng ayamnya.
V: Udah selesai?
V: Ra? Udah selesai blm?
V: Ra lo di manaaa? Kebiasaan.
                “Lo balikan Ra sama Virgo?” tanya Sheryl. Lira diam. Arsen menunggu jawaban Lira.
~
“Jadi kamu bakalan sekolah pilot?” tanya Dizi.
“Iya. Kamu seneng?”
“Ya seneng lah! Eh iya, di mana?”
Dirly diam mendengar pertanyaan yang paling ditakuti setelah bicara tentang ini pada Dizi.
“Dir, kok kamu diem aja? Kamu ngelanjutin di mana?”
“Di…” ucapan Dirly dibiarkannya menggantung.
Ponsel Dirly berdering. Papa meneleponnya.
“Iya Pa, besok aku pesawat jam dua siang.”
Bicaranya dengan seseorang di ujung telepon.
“Makasih Pa udah bantu aku ngurus semuanya. Iya, sampe ketemu besok.”
Setelah itu, Dirly memutus telepon dengan Papanya di telepon.
“Papa kamu lagi ngurus kuliah pilot kamu ya?”
“Iya. Dia juga tadi titip salam ke kamu.”
“Salam balik. Eh iya, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu ngelanjutin di mana?”
Dirly memberikan amplop cokelat yang sedaritadi digenggamnya. Dizi menerima masih dengan senyum sumringah. Dizi membaca apa yang tertera di kertas itu.
California Flight Center.
Setelah membaca apa yang ada di kertas itu, Dizi menatap Dirly yang tertunduk dan seakan tidak siap melihat tanggapan kekasihnya itu.
“Maafin aku.” lirih Dirly.
“Kenapa minta maaf?” tanya Dizi dengan nada bicara menahan tangis.
“Maaf karena harus Amerika.”
Dizi tersenyum getir.
“Aku ngga suka liat kamu pura-pura senyum. Lebih baik kamu nangis karena itu artinya kamu kenapa-napa.” ucap Dirly.
“Aku cuman takut jadi beban kalo aku nangis.”
Dizi mulai meneteskan air matanya. Dirly merengkuh Dizi kedalam dekapnya.
“Maafin aku.” ucap Dirly yang tanpa sadar juga menitihkan air mata.
“Eh, ada apa nih? Di depan rumah orang peluk-pelukan nangis-nangisan.”
Ucapan Arsen membuat Dirly melepas pelukannya, Dizi menghapus air matanya.
“Dir, lo udah bilang?” tanya Arsen. Dirly mengangguk. “Tenang aja Diz, Depok-California cuman jarak kok. Gue kutuk dia kalo sampe dia selingkuh di sana.” canda Arsen.
“Gue ngga bakal macem-macem Kak.” kata Dirly.
“Besok aku ikut nganterin kamu, boleh ya?” kata Dizi.
“Gimana Kak?” Dirly meminta persetujuan Kakaknya.
“Kalo besok kita berangkat bertiga, lo ngga takut Dizi gue apa-apain sepulang dari bandara?”
“Awas aja kalo sampe lo macem-macem!” ancam Dirly.
“Suruh Lira ikut makanya.” ucap Arsen santai seraya berjalan msuk ke rumahnya.
“Kalo Lira ngga mau ikut, gimana?” Dirly menyusul Kakaknya ke ruang tamu.
Arsen melirik jahil.
“Liat besok aja.” katanya sambil memberi wink pada Dizi. Dizi hanya mencibir dalam hati.
“Gue bilangin Lira lho genit-genit sama gue!” ucap Dizi.
“Bilang gih sana. Sekalian gue mau liat Lira tuh kalo cemburu kaya gimana.”
“Lo mau tau kalo Lira cemburu kaya gimana?” tanya Dizi.
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
“Gue jadi makin penasaran.”
“Emang lo udah jadian Kak sama Lira?” tanya Dirly.
“Tunggu aja.”
Setelah itu Arsen naik ke lantai dua rumahnya.
“Jangan lupa suruh Lira ikut besok!” teriaknya dari lantai dua.
“Kalo besok Lira ikut, pulang dari bandara aku jadi nyamuk dong?” kata Dizi.
“Kamu mau ikut aku?”
“Emang bisa?”
“Bisa.”
“Yaudah, mau.”
Dirly terkikik. Lalu mencubit kedua pipi Dizi.
“Di dalem koper ya tapi? Hahahaha.”
“Ih kirain beneran.”
“Yaudah yuk kita ke mana kek. Besok kan aku udah berangkat.”
“Jangan gitu kek ngomongnya.”
“Akhirnya nanti bakal ada yang kangenin aku.”
~
Pukul satu siang di Bandara Soekarno-Hatta.
Dirly erat menggenggam jemari Dizi. Dizi masih dalam tunduknya, berusaha mencari kalimat agar terlihat tegar dan tidak membuat kekasihnya khawatir.
Di sisi lain, Lira asyik menyeruput matcha green tea-red been-nya, ditemani Arsen yang sedang asyik mendengarkan lagu di iPod-nya.
Sheryl yang duduk di samping Dizi, berusaha menenangkan sahabatnya yang hampir menangis—tentu dengan Nanda disebelahnya. Di situ, Nanda berusaha menghibur Dirly dengan mengajaknya ngobrol agar tidak terlalu menengangkan untuk Dizi.
“Diz, lo tau kan Mama Papa gue LDR? Mereka baik-baik aja kok, walaupun sesekali berantem terus ngga kontak-kontakan.” ucap Lira.
Ingga yang duduk tepat di belakang Lira, menoyor kepala Lira dengan novel yang sedang ia baca. Sheryl juga langsung memelototi Lira, begitupun dengan tatapan menyedihkan Dizi. Nanda hanya menggelengkan kepalanya.
“Tapi mereka saling percaya, saling ngedoain. Asal lo berdua ngga sama-sama egois aja, hubungan kalian bakal baik-baik aja kok.” lanjut Lira.
“Kayanya udah pernah ngerasain LDR ya Ra?” tanya Nanda.
Lira diam dan memandang sekeliling. Sampailah tatapannya pada seseorang di sampingnya. Arsen sedang memandangnya, menunggu jawaban dari pertanyaan Nanda. Lira langsung membuang pandangan saat tau dirinya ditatap seperti itu.
Dirly melirik jam di tangannya.
“Udah harus masuk.” ucap Dirly.
Dizi menatap Dirly, Dirly membalas tatapan itu. Arsen melepas headset­-nya. Semua yang mengantar Dirly, bangun dari duduknya.
Dirly memeluk satu persatu teman-temannya, kakak, dan kekasihnya.
“Doain gue ya Kak.” ucap Dirly saat memeluk Arsen.
“Salam sama Papa dan kabarin gue kalo udah nyampe.” kata Arsen.
Setelah Arsen, Dirly melepas salam perpisahan pada Nanda, Sheryl, Lira, Ingga, dan terakhir Dizi.
“Aku bilang jangan pura-pura senyum. Nangis aja. Aku lebih lega kalo kamu nangis.” Dirly memegang kedua bahu Dizi.
Perlahan, senyumnya luntur karena air mata. Dizi langsung memeluk laki-laki di hadapannya.
“Aku pasti bakal kangen banget sama kamu. Pokoknya jangan sampe kita ngga komunikasi sehari.”
Dizi mengangguk dalam pelukan Dirly.
“Oh iya…” Dirly melepas pelukannya. “Aku udah bikinin kamu akun skype. Jadi kamu ngga perlu khawatir kangen liat aku.” ucap Dirly dengan penuh percaya diri.
“Mas, Mbak, tolong ya, di sini banyak temen-temennya lho. Dunia berasa milik berdua banget, yang lain numpang.” ucap Ingga sambil membuang pandangan.
“Sirik aja deh yang ke sini ngga sama pacar, hahahaha.” ledek Sheryl.
“Asem lo! Erland lagi sibuk, jadi gue sebagai pacar yang baik ya berusaha ngerti aja.” kata Ingga.
“Gue ke sini juga ngga sama pacar. Tenang aja, Ngga.” kata Lira.
“Sama calon ya Ra?” tanya Dizi sambil menghapus air matanya.
Lira menghembuskan napas beratnya. Arsen hanya tersenyum mendengar kalimat barusan.
“Yaudah deh, gue masuk dulu ya. Kalo udah sampe, gue kabarin. Jaga diri kalian baik-baik ya.” kata Dirly.
“Hati-hati juga lo.” kata Nanda.
“Iya Kak.”
Dirly hendak melangkah, namun tubuhnya berbalik lagi.
“Sher, Ra, Ngga, jagain Dizi ya. Jangan sampe dia lirik cowok lain.” kata Dirly.
“Siap Kak.” Sheryl dan Ingga memberikan ibu jarinya, sedangkan Lira hanya mengangguk santai.
Setelah punggung Dirly benar-benar tidak terlihat, mereka semua bergegas menuju parkiran.
“Kak Nanda, gue naik di mobil lo ya?” ucap Dizi.
“Eh, gue juga.” kata Ingga.
Lira yang sedang asyik mencari red been di minumannya, berhenti sejenak begitu mendengar ucapan barusan.
“Kalian lagi ngga ngerencanain sesuatu kan?” tanya Lira.
“Engga. Emangnya mau ngerencanain apa buat lo? Ulang tahun lo aja masih tiga bulan lagi.” jawab Ingga sekenanya.
“Pede amat mau kita ngelakuin sesuatu buat lo, hahahaha.” kata Sheryl.
“Gitu ya… Oke.” ucap Lira sambil melambatkan langkahnya.
Arsen berjalan sejajar dengan Lira.
“Lo juga mau naik di mobil Nanda?” tanya Arsen sambil memasukan kedua tangannya dalam saku jinsnya.
“Maunya sih gitu. Tapi—“
“Udah, kita berdua aja.” kata Arsen.
Arsen berjalan lebih cepat.
“Gue sama Lira balik duluan.” Ucap Arsen pada Nanda, Sheryl, Ingga, dan Dizi. “Ra, ayo.” kata Arsen.
Lira menatap teman-temannya secara bergantian.
“Lama banget sih kaya siput.” Arsen menarik tangan Lira. “Duluan ya, bye!” ucap Arsen.
Lira membiarkan Arsen menggenggam tangannya, mengikuti langkahnya dari belakang. Entah mengapa Lira mulai merasa nyaman dengan perlakuan Arsen yang seperti ini.
“Silahkan masuk.” Arsen membukakan pintu mobil untuk Lira.
“Lebay.” Lira masuk dan membuat senyum di wajah Arsen luntur seketika.
Dalam perjalanan, Arsen mulai kesal saat melihat Lira memainkan ponselnya, mengetik sesuatu dan sesekali tersenyum.
Arsen teringat ucapan Dizi kemarin.
“Lo mau tau kalo Lira cemburu kaya gimana?” tanya Dizi.
“Emang kaya gimana?” Arsen memasang wajah penasaran dan serius mendengar pertanyaan Dizi.
“Yang pasti lo bakal nyesel udah bikin dia cemburu.”
Arsen merogoh ponselnya dari saku celana jinsnya, mengutak-atik sesuatu lalu menempelkan ponselnya di telinga kirinya.
“Halo? Jadi kan Rin nanti malem? Jangan ngaret ya, gue jemput di rumah.” Arsen diam sejenak. “Oke.” lalu Arsen menaruh ponselnya kembali di saku celana jinsnya.
Lira melirik Arsen. Arsen tersenyum.
“Mau jalan sama mantan gebetan.” ucap Arsen dengan sunggingan senyumnya.
Lira menganggukan kepalanya. Padahal, mau tau juga ngga.
“Nanti malem ngga ke mana-mana?” tanya Arsen.
“Mau ke acara ulang tahun temennya temen.” jawab Lira.
“Ke acaranya siapa? Sama siapa?”
“Kenapa?”
“Mau tau aja.”
“Sama Virgo.”
“Virgo?!” Arsen menatap Lira.
“Iya. Kenapa emang?”
“Harus banget sama dia?”
“Iya, kan ke acara ultah temennya dia.”
“Partner?”
Lira mengangguk.
“Ngga usah pergi lah.”
“Lho, emang apa urusannya sama lo?”
“Ya jangan aja.”
“Gue jalan sama Virgo ngga minjem kaki lo kok.”
“Ketus banget sih.”
“Ya bener kan?”
Wajah Arsen berubah. Sekarang benar-benar badmood karena tau Lira mau jalan sama Virgo, ditambah mendengar ucapan Lira barusan.
“Yaudah terserah.” mata Arsen fokus ke jalanan.
Beberapa menit berlalu, Lira jadi merasa tidak enak. Ia rasa, ucapannya sudah membuat Arsen diam sampai sekarang.
Berkali-kali Lira menatap Arsen, namun Arsen selalu membuang tatapan. Ponsel Lira berdering tanda panggilan masuk. Lira menimang keinginannya mengangkat panggilan Virgo, sesekali ia melirik Arsen.
Lira menerima panggilan Virgo. Saat menempelkan ponselnya di telinganya, Arsen merampas ponsel Lira.
“Lira ngga bisa pergi sama lo nanti malem. Dia ada acara sama gue. Satu lagi, jangan ganggu dia lagi.” Klik. Arsen menyembunyikan ponsel Lira.
“Apa-apaan sih? Ngga sopan! Sini balikin hape gue.” ucap Lira. Arsen diam.
“Sen, hape gue.” ucap Lira. “Maksud lo apa coba? Gue mau jalan sama temen gue, terus lo kan juga mau jalan sama temen lo. Kok lo malah ngga ngebolehin gue jalan sih? Urusannya sama lo apa sih?” tanya Lira.
Arsen menghentikan mobilnya.
“Lo ngga paham juga?”
“Apa?”
Arsen diam sejenak.
“Gue cemburu.”
“Terus maksud lo apa bersikap kaya gitu?”
“Ya lo ngga boleh pergi sama cowok lain.”
“Emangnya lo siapa gue?”
“Apa cemburu sama lo, gue harus jadi siapa-siapa?”
Lira diam.
“Sekarang gue tanya sama lo,”
Arsen menatap mata Lira, Lira hanya bisa menunduk. Arsen menghembuskan napas beratnya.
“Apa lo mau jadi pacar gue supaya gue berhak ngelarang lo jalan sama mantan lo?”
Lira menatap Arsen. Kaget dengan pernyataannya barusan.
“Kenapa?” tanya Arsen.
“Kalo cuman itu alesannya, tanpa lo ngga jadi siapa-siapanya gue, gue bisa aja kok batalin pergi sama Virgo.” ucap Lira lirih.
Arsen mengrenyitkan dahi, tidak paham dengan ucapan Lira.
“Maksudnya?”
“Lo mau gue jadi pacar lo cuman karena supaya lo berhak larang gue pergi sama Virgo. Tanpa alasan itu lo ngga perlu ngelakuin itu kok.” Lira membuang pandangan.
“Lho, kok malah gini sih. Maksudnya kan bukan gitu.” Arsen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arsen memajukan tubuhnya sedikit, menggamit kedua tangan Lira.
“Ra, ngga mungkin lo ngga tau perasaan gue selama ini. Tanpa alasan itupun, gue tetep bakal ngomong ini sama lo. Ra…”
Lira menatap mata Arsen.
“Mulai sekarang jangan terlalu jauh deket sama cowok ya, terlebih ke mantan lo itu. Maaf kalo terkesan maksa, tapi gue ngga suka lo deket apalagi akrab sama mantan lo. Dan mulai sekarang, lo harus terbiasa sama gue.” ucap Arsen dengan senyumnya.
~
“Kenapa sih kalian bertiga ngeliatin gue kaya gitu? Ada yang salah?”
“Jangan bikin kita ngulang kejadian lalu. Nyidang lo waktu lo nyembunyiin fakta bahwa lo udah jadian sama Virgo.” ucap Sheryl.
“Jujur atau gue suruh saksi mata ke sini?” tanya Ingga.
“Emang ada saksi mata?” tanya Dizi pada Ingga dengan polosnya.
“Saksi matanya ya si Kak Arsen!” bisik Ingga.
“Ooh, ya ya.”
Lira melirik ketiga temannya satu persatu.
“Emangnya kalian nanya apa sih? Gue belom denger pertanyaan deh kayanya.” ucap Lira yang kemudian meneguk vanilla late-nya.
“Kapan lo jadian sama Kak Arsen??!” kompak Dizi, Ingga, dan Sheryl.
“Maunya kapan?” tanya Lira dengan senyum jahil.
“Diz, telepon Kak Arsen cepet.” kata Sheryl.
“Hahahahahahahaha! Empat hari yang lalu. Puas?!”
Ingga melirik jam di tangannya, tanggal 3/5.
“Dua puluh delapan?” tanya Ingga. Lira tersenyum.
“Lho, pas Dirly berangkat dong?” tanya Dizi.
“Pantes Kak Arsen penginnya balik berdua doang!” kata Sheryl.
“Virgo udah tau?” tanya Dizi.
“Diz, lo pikir HUT RI yang semua orang harus nonton upacaranya di TV?!” kesal Ingga.
“Ya kali aja status whatsapp lo berubah jadi tanggal jadian atau inisial nama Kak Arsen.” kata Dizi.
“Alay banget.” kata Lira.
“Alay? Status whatsapp lo Arsen’s ya. Dasar alay! Hahahaha.” Sheryl baru saja melihat kontak Lira di ponselnya dan memberitahukan ketiga temannya.
“Kampung! Pasti dia yang ganti.” gerutu Lira.
“Terus mau lo ubah?” tanya Ingga.
“Ngga usah deh, biarin aja.” kata Lira.
“Yeu!” ucap ketiga temannya.
Ingga asyik dengan pikirannya dan sesekali tersenyum.
“Kenapa Ngga cengengesan?” tanya Sheryl.
“Akhirnya kita berempat ngga ada yang jomblo.” jawab Ingga.
“Penting banget sih mikirin itu?” komentar Lira.
“Jadi kita udah finding nih?” tanya Dizi.
Finding? Maksudnya?” Sheryl bingung.
Finding love.” ucap Lira.

END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Rasa Dibalik Lirik Lagu

About SCIGENCE [Part 1]

Tokoh Dalam Nyata